10 Teori Revolusioner Dalam Bidang Sains

Pengertian teori revolusioner adalah teori yang dibuat untuk menghendaki suatu perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Hal ini sesuai dengan arti revolusi secara umum yaitu proses transformasi perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Seperti yang kita ketahui bahwa pendekatan teori digunakan di berbagai hal di bidang sains yang sudah ada. Namun, berbagai upaya terus dilakukan dengan membuat konsep atau teori baru untuk menggeser atau menyusun ulang teori dan paradigma lama guna menjawab suatu masalah.

Konsep atau teori baru yang dinyatakan berhasil menjawab masalah yang ada sebelumnya, kemudian disebut dengan teori revolusioner.

10 Teori Revolusioner

Berikut ini 10 teori yang dianggap teori revolusioner dalam bidang sains.

1. Teori Heliosentrism (Heliocentrism theory)

Salah satu teori revolusioner terbesar yang muncul pada dua ribu tahun lalu adalah konsep heliosentris. Konsep yang pertama kali dicetuskan oleh Copernicus pada tahun 1543 yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.

Secara historis, teori heliosentrisme bertentangan dengan teori geosentrisme, yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta.

2. Teori Evolusi (Theory of Evolution)

Dalam teori evolusi melalui seleksi alam yang dicetuskan oleh Charles Darwin pada tahun 1859 ini berusaha menunjukkan tentang kompleksitas yang rumit dalam kehidupan dan hubungan antara bentuk kehidupan yang bisa muncul dan bertahan dari proses alam, tanpa memerlukan seorang desainer.

Darwin berusaha membuka pikiran manusia untuk mengejar ilmu alam tanpa terganggu pikiran supranatural. Teorinya begitu revolusioner, namun banyak yang meragukannya.

3. Teori oksigen (Oxygen theory)

Awalnya, pada 1772, ahli kimia Swedia, Carl Wilhelm Scheele melakukan serangkaian percobaan. Dia memanaskan merkuri oksida, perak karbonat, magnesium nitrat, dan potassium nitrat. Semuanya menghasilkan sebuah gas yang sama.

Gas ini oleh Scheele dinamakan “api udara” karena menimbulkan percikan api saat menyentuh debu arang. Zat tak kasat mata ini akhirnya dikenal sebagai phlogiston yang kemudian melahirkan teori phlogiston.

Namun, teori phlogiston itu dipertanyakan oleh Antoine Laurent Lavoisier. Pada 1778, Lavoisier bereksperimen memanaskan Merkuri Oksida. Setelah itu, Lavoisier menyedar sesuatu, pembakaran dihasilkan dari reaksi kimia dengan gas ini, bukan phlogiston.

Lavoisier lantas menjuluki gas itu “oxygen”. Kata “Oxy” berarti pembuat dan “gen” berarti asam, sebuah nama yang mengacu pada kemampuannya untuk menciptakan asam.

4. Teori Mekanika statistik (Statistical mechanics)

Teori Mekanika statistik (Statistical mechanics) dikembangkan oleh James Clerk Maxwell, Ludwig Boltzmann, J. Willard Gibbs, pada akhir abad 19.

Mekanika statistik menjelaskan perilaku statistik atom dan molekul, mekanika statistik termodinamika dan juga memberikan bukti yang kuat tentang adanya atom. Selain itu, mekanika statistik membentuk peran matematika probabilistik dalam ilmu fisika.

5. Teori relativitas khusus (special relativity theory) 

Dalam beberapa hal, konsep relativitas khusus tidak begitu mengalami banyak perubahan, karena teori ini banyak menggunakan konsep fisika klasik.

Teori yang diciptakan oleh Albert Einstein pada tahun 1905 ini menjelaskan bagaimana gerak dalam kerangka acuan inersia yang berbeda, yaitu tempat-tempat yang bergerak dengan kecepatan konstan dan relatif.

6. Teori relativitas umum (General relativity theory)

Teori relativitas umum yang dikemukakan oleh Albert Einstein pada tahun 1915 ini untuk memperbaharui dari teori relativitas sebelumnya, yaitu teori relativitas khusus (special relativity).

Teori relativitas umum membuang hukum gravitasi Newton dan membuka mata para ilmuwan tentang sejarah alam semesta.

7. Teori Kuantum (Quantum theory)

Teori Kuantum (Quantum theory) dikembangkan oleh Max Planck, Einstein, Neils Bohr, Werner Heisenberg, Erwin Schrodinger, Max Born, Paul Diarc, pada tahun 1900-1926

Dalam ilmu fisika klasik semua benda dianggap kontinu. Namun, teori kuantum menganggap benda itu terpisah-pisah, tidak
kontinu. Teori kuantum akhirnya menghancurkan sifat realitas, mengacaukan seluruh filosofi sebab akibat dan mengungkapkan keanehan tentang alam.

Teori inilah yang akhirnya memunculkan berbagai pendapat dari banyak ilmuan seperti Neils Bohr, Einstein dan masih banyak lainnya.

8. Teori Permainan (Game theory) 

Teori Permainan (Game theory) dikembangkan John von Neumann dan Oskar Morgenstern pada tahun 1944 sebagai metode analisis ekonomi mikro pada tingkat menengah mengenai pengambilan keputusan.

Dalam pengambilan keputusan terdapat strategi yang bersifat interaktif antara pemain ekonomi. Teori ini berisikan peraturan yang menentukan kemungkinan tindakan untuk setiap pemain. Cukup rumit, tapi menarik sebagai strategi bisnis.

9. Teori Informasi (information theory), Claude Shannon, 1948

Teori Informasi (information theory) yang dikemukakan oleh Claude Shannon pada tahun 1948 sebenarnya bukan sebuah teori revolusioner, karena tidak ada teori pendahulunya. Teori informasi adalah disiplin ilmu dalam bidang matematika terapan yang berkaitan dengan jumlah data yang dapat disimpan dan dikirim melalui suatu saluran komunikasi.

Shannon juga memberikan dasar matematika untuk banyak perkembangan revolusioner lainnya yang melibatkan komunikasi elektronik dan ilmu komputer.

10. Teori tektonika Lempeng (Plate tectonics) 

Teori tektonika Lempeng (plate tectonics theory) awalnya dikemukakan oleh Alfred wegener pada tahun 1912 dan dikembangkan kembali oleh J. Tuzo Wilson pada tahun 1960

Plate tectonics adalah teori yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini membuat Alfres Wegener menyadari bahwa benua bisa hanyut.

Itulah 10 teori revolusioner dalam sains yang sempat mengubah dunia secara signifikan.

 

10 Teori Revolusioner Dalam Bidang Sains

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *