Politik Homo Homini Lupus

Politik Homo Homini Lupus tidak terlepas dari sejarah masa lampau. Pada zaman dahulu, ribuan tahun sebelum masehi, yaitu pada zaman pra batu purba, manusia hidup tergantung pada alam dan berpindah-pindah. Hidup mereka penuh dengan perjuangan dan tantangan alam.

Politik Homo Homini Lupus

Diperkaya oleh pengalamannya dari waktu ke waktu, maka selanjutnya mereka mencoba untuk hidup lebih menetap di satu tempat dengan hidup berkelompok. Dalam konstelasi hidup seperti itu, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sering terjadi perselisihan, yang menyebabkan peperangan dan mengakibatkan musnahnya suku-suku yang lemah.

Gambaran hidup sebagaimana tersebut tadi sering dilukiskan sebagai “politik ikan” dimana ikan yang besar memangsa ikan yang kecil dan lemah atau di mana yang kuat selalu akan menelan yang lemah.

Titus Maccius Plautus (254-184 SM) seorang penulis naskah drama Romawi kuno memuat kalimat “Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit ,” yang diterjemahkan “Manusia adalah serigala dari manusia ke manusia, ketika dia belum menemukan seperti apa dia”  dalam karyanya yang berjudul Asinaria.

Politik Homo Homini Lupus

Istilah Homo Homini Lupus mulai dipopulerkan kembali oleh Thomas Hobbes, dalam karyanya yang berjudul De Cive (1651). Thomas Hobbes  adalah seorang tokoh dalam perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan, dan ilmu politik modern, yang lahir pada 5 April 1588 di Malmesbury, Wiltshire, Inggris.

Menurut Hobbes, Politik Homo Homini Lupus disebabkan antara lain:

Manusia pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, segala tindakan manusia mengarah pada pemupukan kekuasaan dan hak milik sehingga akan menjurus pada perang antara semua lawan semua.

Secara alamiah manusia memiliki naluri kekerasan. Menurut Hobbes kekerasan terjadi karena tidak tersalurnya naluriah seperti harapan, keinginan atau kehendak yang berlebihan itu.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, yang didasarkan pada rasa takut terhadap kematian yang kejam, klaim moral dapat dibenarkan.

Masyarakat tidak lagi memegang nilai-nilai seperti kejujuran dan kebenaran serta keadilan dan kepedulian pada eksistensi orang lain serta ada kesewenang-wenangan terhadap golongan yang lemah, sehingga perlu adanya peran negara untuk mencegah ini.

Selain istilah Homo Homini Lupus, dalam buku De Cive terdapat juga istilah Homo Homini Socius yang berarti manusia adalah teman bagi sesama manusianya, atau manusia adalah sesuatu yang sakral bagi sesamanya.

Ide Homo Homini Socius dicetuskan oleh Lucius Annaeus Seneca adalah seorang filsuf, negarawan, dan penulis drama Romawi, yang mengkritik Homo Homini Lupus sebagai sosialitas premanis, yaitu sosialitas yang saling  memangsa dan saling membenci bahkan saling ‘menerkam’ antar manusia. Manusia lain adalah mangsa yang harus ditiadakan, bukan sekadar saingan, bukan pula sebagai lawan tanding.

 

Politik Homo Homini Lupus

Recommended For You

About the Author: Lenterapedia

Lenterapedia merupakan salah satu media online sebagai sarana pengetahuan informatif, inspiratif dan edukatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *